tulang belakang terasa kaku disertai nyeri saat membungkuk

tulang belakang terasa kaku disertai nyeri saat membungkuk, waspadai gejala Ankylosing spondylitis, dan temukan obat alaminya disini , < transfer pembayaran setelah barang sampai ! >>Masyarakat awam mungkin tidak terlalu familiar dengan penyakit bernama ankylosing spondylitis (AS). Penyakit ini termasuk kelompok spondyloarhropathies yang merupakan grup masalah gangguan rematik.

AS merupakan penyakit inflamasi (peradangan) yang menyerang bagian tulang belakang atau spondylus. Penyakit AS dapat menyebabkan ruas-ruas tulang belakang menyatu akibat peradangan, sehingga tubuh membungkuk secara permanen. Kondisi tersebut menyebabkan nyeri dan keterbatasan berbagai gerak pada penderita.

Meski asal mula dan perkembangan penyakit AS belum diketahui sepenuhnya, teori menunjukkan penyakit ini terjadi pada individu yang memiliki ‘bakat AS’, yaitu berupa gen human leukocyte antigen jenis B27 (HLA-B27) yang bisa diturunkan. Infeksi yang disebabkan virus tertentu, seperti epsteinn barr, juga dapat memicu terjadinya AS pada individu-individu dengan gen HLA-B27.

Spesialis penyakit dalam dari Divisi Reumatologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RS Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM) dr Rudi Hidayat SpPD-KR mengatakan, penyakit dengan prevalensi 0,1 sampai satu persen ini lebih banyak ditemukan pada pria dibandingkan perempuan dengan perbandingan 5:1.

Selain itu, umumnya penyakit AS mulai muncul pada usia 24,8 – 27,7 tahun. “Sebanyak 90 persen muncul di usia produktif,” kata Rudi saat ditemui di RSCM, Jakarta, belum lama ini.

Meski AS muncul di usia produktif, penyakit ini cenderung terlambat didiagnosis. Rata-rata penyakit AS baru terdiagnosis ketika penderita telah memasuki usia 33,2 – 39,1 tahun. Dengan kata lain, penyakit AS rata-rata terlambat terdiagnosis selama 8,5 -11,4 tahun. Ini terjadi karena gejala dan gambaran klinisnya sulit dikenali di tahap awal. Gambaran klinis itu baru muncul di tahap akhir yang sulit untuk ditangani. Tak hanya itu, gejala AS juga sering diabaikan karena dianggap pasien sebagai penyakit ringan biasa.

Untuk pencegahannya pun tidak ada dalam bentuk primer. Satu-satunya upayanya ialah dengan pencegahan sekunder berupa penanganan medis sejak dini. Penanganan dini ini dapat mencegah risiko komplikasi dari penyakit AS. “Apa yang bisa dicegah? Tidak ada. Tapi, begitu ada tanda-tanda ke arah ankylosing spondylitis, cepat-cepat didiagnosis dan diobati,” kata Rudi.

Gejala umum yang perlu diwaspadai adalah nyeri pada punggung bawah dan tubuh terasa kaku pada pagi hari. Rudi mengatakan, nyeri pada penyakit AS berbeda dengan nyeri biasa. Nyeri AS adalah akibat inflamasi yang terasa saat tubuh istirahat dan akan berkurang saat tubuh beraktivitas.

Jika kelompok usia produktif mengalami nyeri serupa hingga tiga bulan, Rudi mengatakan, sudah sepatutnya mewaspadai AS dan segera memeriksakannya ke dokter. Jika terlambat, akan muncul penulangan pada ruas-ruas tulang belakang.

Pengobatan
Pengobatan AS dapat dilakukan dalam dua cara, yaitu secara farmakologi dan nonfarmakologi. Secara farmakologi, Rudi mengatakan, pasien diberikan obat antiinflamasi dan antirematik untuk menghambat proses AS. “AS tidak bisa sembuh total. Jadi target pengobatan ialah remisi, membuat penyakit tenang, tidak menimbulkan nyeri, ataupun berkembang lebih lanjut,” ujarnya.

Untuk pengobatan nonfarmakologi, menurut Rudi, dapat dilakukan dengan edukasi pasien, pembentukan grup komunikasi antarpasien, olahraga, dan fisioterapi. Dia mengatakan, melatih gerak tubuh penting bagi pasien AS agar kekakuan tubuhnya dihambat. Namun, latihan gerak harus hati-hati agar tidak menyebabkan masalah baru.

Terkait pengobatan, spesialis penyakit dalam dari Divisi Reumatologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM dr Sumaryono SpPD-KR tidak menyarankan terapi chiropractic dalam mengatasi nyeri akibat AS. Selain belum terukur secara ilmiah, terapi ini biasanya akan ‘memaksa’ tulang kembali pada posisi semula. Sedangkan peradangan AS membuat ruas-ruas tulang belakang pasien menyatu. “Jika dipaksakan, tulang bisa patah,” katanya.

Dia mengatakan, ada ‘titik’ kondisi yang menentukan apakah penderita AS dapat kembali seperti semula atau tidak. ‘Titik’ ini ditandai dengan terjadi atau tidaknya degerenasi lemak (fat degeneration) pada penderita. Cara yang bisa dilakukan untuk mengetahuinya ialah melalui pemeriksaan MRI. Pemeriksaan ini bermanfaat untuk mendeteksi dini peradangan pada penderita AS sehingga terapi yang agresif, dapat diberikan untuk menekan risiko komplikasi.

Sumaryono juga mengatakan, tindak operasi sangat jarang dilakukan pada penderita AS, karena risikonya tinggi. Tulang belakang berdekatan dengan saraf sumsum, sehingga bila tulang punggung sudah menyatu tidak dapat dipisahkan kembali untuk menjadi normal. “Kalau kita mesti potong semua, risiko trauma pada saraf akan besar.”

Namun, jika radangnya menyebar hingga panggul, tulang rawan, dan penyatuan tulang mengganggu fungsi tubuh lain dan penjepitan saraf, dia menyarankan untuk melakukan operasi. Dia mencontohkan, radang yang meluas ke pangkal paha dapat membuat pasien tak bisa berjalan. “Dengan operasi total hip replacement. Tapi, itu jika kondisi peradangan sudah advance,” kata Sumaryono.

Mengingat salah satu pemicu penyakit AS adalah genetik (HLA-B27) yang bisa diturunkan, namun penurunan gen itu tidak menunjukkan bahwa individu tersebut pasti menderita AS. “Sekitar 90 persen pasien AS itu HLA-B27-nya positif. Positif belum tentu akan sakit,” ujar Sumaryono.

klik disini cara pemesanan obat alami Ankylosing spondylitis !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *